SANTRI PUTRI DI PONDOK PUTRI (1)

December242013
Hubungan antara santriputri dengan ustadzah yang masih berstatus santri tidak hanyaterbatas pada hubungan dan komunikasi di madrasah, tetapidapat berlanjut di luar forum tersebut, terutama untukberkonsultasi masalah-masalah percintaan dan masalah-masalah pribadi.

Hubungan Sosial Antara Sesama Santri PutriSantri putri di pondok pesantren sangat beragam karakter,lingkungan keluarga , status sosial serta usianya. Dengandemikian diperlukan tenggang rasa yang tinggi agar terjadikeharmonisan di dalam lingkungan pondok pesantren. Santriputri senior biasanya bertindak sebagai pembimbing bagi santri-santri putri yang lebih muda.

Selain itu karena pondok pesantrenmerupakan suatu keluarga besar, maka santri putri yang seniormenempatkan diri sebagai fkakak bagi santri-santri putri lainyang usianya lebih muda.

Mereka dapat menjadi tempat untukmencurahkan isi hati (curhat) bagi santri-santri putri yunior bilamereka menghadapi masalah.

Dengan demikian hubunganantara sesama santri putri, baik yang usianya sebaya , lebihmuda atau lebih tua terjalin akrab. Salah satu faktor yangmenyebabkan terjalinnya hubungan yang akrab ini adalahkarena mereka sama-sama jauh dari orang tua dan saudara.

Pada umumnya dalam kelompok santri putri diangkat seorang“lurah” yang menjadi koordinator dan berfungsi sebagaipengawas dan penghubung antara santri putri dengan Kyai/Nyaibila ada masalah yang dihadapi santri putri.

Lurah dipilihmelalui suatu pemilihan umum di lingkungan para santri putridan dipilih berdasarkan seniortas, tingkat pemahaman ilmuyang sudah tinggi, serta mempunyai kepribadian dan akhlakyang baik.

Untuk lingkup yang lebih kecil, setiap kamar jugamemiliki seorang koordinator kamar yang tugasnya adalahmenjaga ketertiban dan keamanan serta keharmonisan diantara teman-teman sekamarnya. Bila ada masalah pada teman-teman sekamarnya, maka kordinator kamar harusmengkomunikasikan serta berkonsultasi dengan lurah.

Bila kordinator kamar serta lurah belum dapat memecahkan danmenyelesaikan masalah tersebut, maka mereka harusberkonsultasi dengan Kyai atau Nyai.HubunganSosialAntaraSantri PutriDengan MasyarakatDiLuar Pondok Pesantren Tradisional.

Di pondok pesantren tradisional santri putri dilarangberkomunikasi dan keluar dari pondok pesantren. Khusus padaPondok Pesantren Al Musjibiyah semua santrinya berstatussantri mukim walaupun ada santri yang berasal dari daerahsekitar.

Selain itu santri dilarang belajar di luar pondokpesantren . Dengan demikian hubungan sosial antara para santriputri dengan masyarakat kurang intensif dan santri putri kurangmengetahui perkembangan dalam masyarakat sekitar.

Untukmemenuhi kebutuhan makan dan sebutuhan sehari-hari lainnya,santri dapat memperolehnya di kantin-kantin di lingkunganpondok pesantren yang dikelola oleh pengurus dan melibatkanmasyarakat sekitar.Dari masyarakat yang mengelola kantin dantoko tersebutlah para santri memperoleh informasi-informasiaktual yang terjadi di luar pondok pesantren.

Pada umumnya pondok pesantren tradisional membuatperaturan yang melarang santri putri menerima tamu laki-lakiyang bukan muhrimnya, dan tamu laki-laki muhrim dilarangmasuk ke kamar santri putri untuk menghindari fitnah.

Bila santri putri akan keluar pondok pesantren untuk suatu keperluan, maka harus ada ijin dari pengurus pondok pesantren. Jadisantri putri hanya bisa keluar pondok pesantren bila pulangkerumah.Hubungan Sosial Di Lingkungan Pondok PesantrenModern.

Pola hubungan sosial dan komukasi di lingkungan pondokpesantren modern ada dua macam yaitu pola hubungan yangmemberikan ruang kepada para santrinya untuk berinteraksisoaial dan berkomunikasi secara proporsional dan polahubungan yang membatasi ruang komunikasi para santrinya.

Pondok-pondok pesantren yangmenerapkan pola hubungan sosial dan komunikasi yang lebihtertutup dapat dilihat pada Pondok Pesantren Al-Irsyad Syari'ah& Thoriqoh An Naqsyabandiyyah Rembang, Pondok TahfidhYanbu'ul Qur'an (PTYQ) Kudus dan Pondok Pesantren Al-FadlilahKaliwungu Kendal.

Pola-pola hubungan sosial dan komunikasi dipondok pesantren Modern ini juga mempunyai ciri dan kekhasantersendiri.Hubungan Sosial Antara Santri Putri Dengan Kyai, KeluargaKyai Dan Nyai.

Pada Pondok Pesantren Addainuriyah 2 hubungan antarasantri putri dengan Kyai sangat baik, artinya Kyai sangat terbukadan memberikan kesempatan kepada para santrinya untukberkomunikasi, sejauh beliau mempunyai waktu dan berada dipondok pesantren .

Bahkan menurut Hj. Umaeroh atau ibu Nyai ,santri putri lebih senang mencurahkan isi hatinya (curhat) atauberkonsultasi masalah pribadi dengan Kyai dibandingkan denganibu Nyai karena mungkin lebih bebas dan Kyai dapat lebih bisamemahami perasaan mereka.

Untuk membantu memecahkanmasalah yang dihadapi para santri putri, Kyai juga berusahamencari solusi dengan melakukan sholat istikharah.

Walaupun Kyai dan Nyai memberikan keleluasaan bagi parasantrinya untuk berkomunikasi dengan beliau, tetapi ada santriyang enggan untuk berkomunikasi dengan beliau kalau tidakterpaksa atau ada masalah yang penting. Hal ini diungkapkanoleh beberapa santri Pondok Pesantren Addainuriyah 2 yaituAida Sumayirrah, Beti Ratnasari, Siti Aminah Rohmatul Aulia, NurIva Syarifah, Chotimatun.

Keengganan para santri putri untukbertemu dan berkomunikasi dengan Kyai karena menurutmereka Kyai mempunyai kelebihan yaitu bisa melihat/ membacamasalah yang sedang dihadapi seseorang tanpa orang tersebutmenyebutkan masalah yang dihadapainya.

Suatu pengalamandiungkapkan oleh seorang santri putri yaitu Solkhah Mufrikhah,yang pernah menghadapi masalah berat.

Suatu saat dia lewat didepan “dalem” (rumah Kyai) dan kebetulan saat itu Kyaisedang duduk diteras depan dalem. Kyai memanggilnya danmeminta dia membantu ibu Nyai untuk merebus kentang,padahal saat itu banyak santri putri di sana, tetapi dialah yangdipanggil oleh Kyai.

Sambil merebus kentang Kyai dan ibu Nyaimengajaknya berbicara dan memberi nasihat bahwa masalahyang dihadapi harus diselesaikan dengan tenang dan santai.Nasihat Kyai dan Nyai sangat menyentuh perasaan Solkhah dansangat menentramkan sehingga hal tersebut

menjadipengalaman yang mengesankan.Hubungan dan komunikasi antara santri putri dengankeluarga Kyai (putra-putri Kyai) juga cukup baik, terutama dengan putri Kyai, yang juga menjadi ustadzah.

Hubungan dankomunikasi antara santri putri dengan Kyai dan keluarganyawalaupun diberi keleluasaan tetapi harus tetap memperhatikantata krama, sopan santun dan atas dasar rasa hormat.

Kyai juga sangat terbuka dalam menginformasikan sertamengkomunikasikan manajemen pondok pesantren terutamayang berkaitan dengan keuangan. Laporan Keuangan selaluditempel setiap saat agar santri mengetahui sumber dana danpenggunaannya secara terbuka .

Hubungan sosial dan komunikasi yang terbuka dan moderatini dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan Kyai, yang selainmemperoleh pendidikan pondok pesantren, beliau jugamenempuh pendidikan umum formal , sehingga pola hubungansosial di pondok pesantren disesuaikan dengan tuntutan jamansejauh itu tidak melanggar kaidah agama.Pondok pesantren modern yang lain, yang juga menerapkanpola komunikasi secara terbuka adalah Pondok Pesantren Al-Amien Demak.

Pola hubungan sosial dan komunikasi antarasantri putri dan Kyai terjadi pada saat Kyai mengajar. Kalau adawaktu setiap saat Santri putri dapat bertemu Kyai. Kyai sangatterbuka menerima para santri putri yang akan berkomunikasi.

Tentu saja hubungan dan komunikasi ini harus dalam bataskewajaran dan kesopanan untuk menjaga kehormatan Kyai danagar para santri putri tidak bertindak di luar batas kesopanan.Selain dua pondok pesantren tersebut diatas, ada lagipondok pesanren yang menerapkan pola hubungan sosial dankomunikasi yang terbuka, yaitu Pondok Pesantren Al-HikmahBenda Sirampog Brebes.

Di pondok pesantren ini para santriputri dapat melakukan komunikasi atau konsultasi dengan Kyaidengan suatu syarat yaitu komunikasi harus dilakukan di tempatterbuka dan membawa teman agar terhindar dari ftnah.

Sebenarnya para santri putri sudah mempunyai hubungan yangbaik dengan keluarga Kyai karena para santri putri yang belajartanpa bekal (sangu) secara sukarela dan atas kemauan sendirisetiap hari membantu Ibu Nyai dalam mengurus rumahtangganya seperti memasak, mencuci pakaian, membersihkanrumah, mengasuh anak dan sebagainya. Bantuan yang diberikanpara santri putri kepada keluarga Kyai ini merupakan suatukebanggaan bagi para santri putri, karena mereka telahmengabdi dan pengabdian ini merupakan bentuk dari rasahormat mereka kepada Kyai dan keluarganya.

Menurut KH .M.Masturi Mughni, walaupun Kyai sangat terbuka dalamberkomunikasi, tetapi para santri putri masih banyak yangenggan melakukan konsultasi dengan Kyai. Yang seringkaliberhubungan dan berkomunikasi dengan Kyai adalah para pengurus.

Perlu diketahui bahwa setelah Nyai atau istri KyaiMasruri Mughni meninggal pada tahun 1996, Kyai Masruri Mughnimenikahi seorang santrinya yang bernama Fanti Widia. Prosespengambilan keputusan untuk menikahi santrinya iniberdasarkan mimpi dan sholat istikharah para Kyai sepuh dilingkungan pondok Pesantren.

Hubungan antara santri putridengan putra-putra Kyai diupayakan tidak terlalu dekat ataudihindarkan hubungan yang menjurus ke hubungan cinta, karenabiasanya kalau santri putri mendapat perhatian dari putra Kyai,mereka cenderung bersikap manja.

Pada Pondok Pesantren Al-Irsyad Syari'ah & Thoriqoh AnNaqsyabandiyyah Rembang, Pondok Tahfidh Yanbu'ul Qur'an (PTYQ) Kudus dan Pondok Pesantren Al-Fadlilah Kaliwungu Kendal,hubungan sosial dan komunikasi antara santri putri dengan Kyaijarang bisa dilakukan. Bahkan di Pondok Pesantren Al-Irsyad danPondok Pesantren Yanbu'ul Qur'an (PTYQ) Kudus, Kyai ketikamengajar mengaji tidak mau berhadapan langsung dengansantri putri, sehingga harus ditutup kain/tabir. Jadi yangterdengar hanya suara Kyai tanpa bisa saling melihat wajah.

Komunikasi dengan Kyai hanya kalau mau minta ijin pulang kerumah. Demikian juga hubungan dan komunikasi dengankeluarga Kyai sangat jarang dilakukan.

Di Pondok Pesantren Al-Fadlilah Kaliwungu Kendal, ada halyang unik , yaitu walaupun santri jarang berkomunikasi secarapribadi dengan Kyai, tetapi ada kebiasaan dan keteladanan Kyaiyang diikuti oleh para santri.

Sikap “tak'dim” yang demikian ini menjadi kebiasaan santri, contohnya yaitu santri yang lebihmuda harus menundukkan kepala bila berjalan dan berpapasandengan santri atau orang yang lebih tua .

Sikap “tak'dim “terhadap Kyai juga diperlihatkan santri dengan mengikutikebiasaan Kyai yaitu tidak memakai sandal/alas kaki bilabepergian. Selain sebagai bentuk rasa tak'dim terhadap Kyai,kebiasaan tidak memakai alas kaki ini karena alasan kesehatandan cermin dari kesederhanaan.

Karena kebiasaan tidakmemakai alas kaki diikuti oleh seluruh santri dan berlanjutsampai saat ini, maka hal tersebut menjadi ciri khas ataukeistimewaan dari Pondok Pesantren Al-Fadlilah KaliwunguKendal.Hubungan Sosial dan Komunikasi Antara Santri PutriDengan Santri Putra.

Pada pondok pesantren yang pola hubungan sosial dankomunikasinya terbuka seperti Pondok Pesantren Addainuriyah 2Semarang, hubungan sosial dan komunikasi antara santri putridan santri putra hubungannya terbatas, artinya santri putridapat berhubungan dan berkomunikasi dengan santri putrasebatas pada hubungan yang ada kaitannya dengan tugaspondok pesantren.

Dalam kegiatan rutin di Pondok PesantrenAddainuriyah seperti sholat jama'ah dan pengajian-pengajiansantri putra dan santri putri dapat bertemu karena tempatnyatidak dipisah.

Berbeda halnya dengan Pondok Pesantren Al Hikmah BendaSirampog Brebes yang menerapkan pembelajaran di SMP danSMU dengan menyatukan santri putra dan santri putri.

KH MasturiMughni menuturkan bahwa Pondok Pesantren Putri Al Hikmahmenerapkan peraturan yang lebih longgar dibandingkan denganpondok pesantren Salafiyah yang lain.

Di Pondok Pesantren AlHikmah santri putri bisa lebih sering bertemu dengan santriputra, baik dalam kegiatan sholat jama'ah maupun dalamkegiatan-kegiatan lain.

Menurut beliau, kalau santri putridikekang dan dibatasi ruang pergaulannya dengan peraturan-peraturan yang ketat, maka akan membuat santri putri semakinnakal, susah diatur dan akan mencari-cari kesempatan untukbertemu dengan santri putra.
(bersambung)
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

13 tanggapan untuk "SANTRI PUTRI DI PONDOK PUTRI (1)"

Stand Alone Crew pada 07:43 AM, 24-Dec-13

Hadir sob

Zaoldyeck pada 06:31 PM, 24-Dec-13

Hadir sob dan selamat menunaikan ibadah shalat maghrib. Dan saya mau blogwalking dulu ya lol

Mampir ya ada new post lol

Bung Info pada 08:11 PM, 24-Dec-13

pengalaman yang sangat berarti sekaligus jadi pelajaran jika kita mencoba belajar di ponpes...

Sangat disiplin ya gan

trisna pada 12:22 AM, 25-Dec-13

mantep sob postinganya, ga capek sob nulisnya, maap sob kunbal aga telat

thaliban alcharish pada 03:04 AM, 25-Dec-13

@Stand Alone Crew,
monggo...

thaliban alcharish pada 03:05 AM, 25-Dec-13

@trisna,
hahaha.... Ndak kang, demi dunia pesantren...

thaliban alcharish pada 03:07 AM, 25-Dec-13

@Bung Info,
iya nu kang... Pembelajaran full day yang sebenarnya ya di pondok pesantren. 24 jam. Bukan cuma jam 6 pagi sampai jam 3 sore... Hehe

thaliban alcharish pada 03:07 AM, 25-Dec-13

@Zaoldyeck,
insya.allah...

Santri Ndablegs pada 05:24 AM, 25-Dec-13

Semoga dengan adanya pesantren,lebih-lebih untuk putri, bisa membendung fenomena cabe-cabean yg sedang marak di kalangan pemuda abg.

Bholick khoenhts pada 08:54 AM, 25-Dec-13

Nyimak ajha master.. Kunbal yahh..

xtrck neubi pada 09:02 AM, 27-Dec-13

ane demen kaya yang gini..
biggrin lanjutkan

thaliban alcharish pada 09:47 AM, 27-Dec-13

@Santri Ndablegs,
amien...

Maju terus dunia pesantren!!!

gariz pada 01:42 AM, 28-Dec-13

wah ane ketinggalan apa ni ......??
Mampir keblog ane yu ......?!!!!

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

 
Kembali ke Atas